Berbicara mengenai seksisme bukan sesuatu yang sederhana, Gents. Pandangan dan perilaku seksisme di dunia kita seringkali tidak kita sadari. Bahkan beberapa bahasa yang kita gunakan sehari-hari menjadi suatu hal yang seksis.

Kata seksis secara sederhana dapat diartikan sebagai ungkapan yang memosisikan salah satu gender seks sebagai pihak yang inferior. Kebanyakan para pakar linguis mendefinisikan bahasa seksis sebagai bahasa yang cenderung tidak adil gender terhadap perempuan atau dengan kata lain bahasa yang merepresentasikan posisi laki-laki lebih dominan (superior).

Sikap ini tentu tidak terlepas dari pengaruh kultur patriarki yang mengakar dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat kita. Sistem ini sering dianggap sebagai biang permasalahan suburnya dominasi seksisme bahasa terhadap perempuan. Gents, tahukah Anda bahwa perilaku seksisme ini sebenarnya bisa dirasakan bahkan di dalam hal kecil seperti bahasa. Kadang Anda tidak menyadarinya, tapi bahasa dan ungkapan yang kita gunakan sehari-hari sudah mencerminkan pandangan seksisme yang tumbuh di masyarakat.

1. “Ayah pergi ke kantor, sedangkan ibu pergi ke pasar.”

shutterstock_302741036 (1)

Kalimat ini pasti sering Anda dengar ketika Anda masih sekolah. Jika Anda pernah sesuatu semacam ini untuk tugas sekolah Anda, maka tanpa sadar sebenarnya Anda menulis sesuatu yang seksis. Secara sintaksis, kalimat ini tidak keliru, tetapi secara semantis telah menempatkan figur ibu menjalani profesi klasik yang tidak menuntut kualifikasi strata pendidikan tertentu. Siapa saja, tanpa membutuhkan keahlian apa pun dianggap mampu melakukan pekerjaan dapur atau berbelanja ke pasar. Bandingkan dengan sosok ayah yang berprofesi sebagai orang kantoran yang notabenenya berasal dari kaum terpelajar.

2. “Diharapkan semua pejabat hadir bersama istri.”

shutterstock_140523091

Bahasa Indonesia sebenarnya merupakan bahasa yang aman dari bias gender. Kata ganti “dia” dalam bahasa Indonesia bersifat netral, lain halnya dengan bahasa Inggris yang dapat saja berarti maskulin atau feminin. Namun, bukan berarti bahasa seksis tidak ditemukan dalam komunikasi di kehidupan sosial kita, Gents. Contoh sederhana, imbauan “Diharapkan kepada semua pejabat dapat hadir bersama istri” telah menyiratkan bahwa semua pejabat negara sudah pasti pria.

Pandangan seksis demikian seakan mengesahkan pandangan stereotip seks yang mengatakan bahwa atribut kepandaian, kekuatan, kekuasaan, mandiri seakan mutlak kaum laki-laki, sedangkan atribut keterbatasan, kelemahan, ketergantungan, harusnya melekat pada perempuan.

3. “Lebih baik mengalah sama perempuan.”

gif1

Biasanya kalimat ini terucap ketika sedang terjadi perdebatan antara seorang pria dan wanita. Maksud di baliknya mungkin baik: seorang pria yang diharapkan melepaskan egonya untuk menyenangkan hati wanita agar masalah cepat diselesaikan. Namun, tanpa disadari sesungguhnya Anda sedang membaca sesuatu yang seksis. Ketika kalimat ini diucapkan, wanita dianggap sebagai gender yang lebih lemah dari pria sehingga tidak ada jalan lain untuk memenangkan sebuah argumen kecuali sang pria mengalah.

4.“Kok galak banget, Mbak?”

not-bad

Mungkin hal ini sering terjadi di lingkungan Anda bekerja. Saat Anda melihat partner kerja wanita Anda wajahnya terlihat sedang kurang bersahabat, lalu Anda atau beberapa teman Anda mengejek dengan kalimat ini “Galak amat sih mbak hari ini…”

Padahal rekan kerja Anda hanya sedang duduk diam dan berpikir, bukan sedang merajuk atau sedih. Situasi seperti ini sering terjadi karena adanya ekspektasi seorang wanita harus selalu terlihat ramah dan tersenyum  di depan semua orang jika ingin disukai. Pria yang sedang terdiam dengan ekspresi muka yang sama akan dianggap serius, sementara wanita bisa jadi dianggap galak dan kurang disukai.

5. “Suami kok jagain anak, ibunya ke mana?”

123

Untuk Anda yang sudah berkeluarga dan telah memiliki anak mungkin pernah mendengar kalimat ini dilontarkan oleh seseorang di lingkungan tempat tinggal Anda. Padahal bisa jadi sang suami adalah seorang wirausaha sedangkan istrinya memilih untuk bekerja. Apapun keadaannya hal tersebut adalah pilihan masing-masing keluarga dan tanggung jawab untuk menjaga anak adalah kewajiban kedua orangtua yang membesarkannya. Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting seperti ini harusnya kita hindari di kehidupan kita sehari-hari dan carilah pembahasan yang lebih esensial daripada hanya menghabiskan waktu membahas hal-hal yang sifatnya basa-basi.

So Gents, bahasa-bahasa di atas tanpa kita sadari telah melekat di masyarakat kita. Apakah kita dapat mengubahnya? Tentu saja! Sebagai gentleman, sepatutnya kita sadar untuk tidak menggunakan bahasa yang  bias gender, dengan begitu kita dapat menerapkannya di kehidupan kita sehari-hari. Perubahan dapat kita lakukan dari diri kita sendiri melalui hal-hal kecil namun sangat berarti.

-Raditya Nugroho