“Berkaryalah dengan cinta. Dengan cinta, apapun bisa terjadi, apapun bisa tercapai” -Pak Raden

10 November merupakan sebuah momentum yang sangat berarti buat Indonesia karena semua rakyat merayakan Hari Pahlawan. Di mana bangsa Indonesia kembali mengingat seberapa besar jasa para pahlawan yang sudah berjuang keras memerdekakan tanah air ini.

Dan bukan berarti setelah era modern tidak ada lagi pejuang-pejuang yang gagah berani melakukan sebuah movement. Memang di era modern para pejuang tidak menggunakan bambu runcing dan bertumpah darah mengorbakan nyawa. Melainkan berjuang dan berperang melalui ideologi untuk merubah hidup orang banyak.

Ada sebuah serial yang menjadi “pahlawan” bagi anak-anak pada masa 90-an bahkan mungkin hingga masa sekarang, yakni serial Si Unyil. Di luar nilai edukasinya, Si Unyil juga telah menjadi maskot era 80-90an.

Unyil

Serial Si Unyil mempunyai cerita yang ringan dan mengangkat tema kehidupan sehari-hari. Tidak hanya memberi edukasi, serialnya juga menghibur. Tentu saja ini merupakan sesuatu yang langka di jagat televisi kita pada dekade sekarang.

Mungkin juga tidak banyak orang tahu, pada tahun 1983 serial Si Unyil meraih penghargaan dari badan pendidikan UNICEF. Organisasi di bawah PBB yang mengurusi anak-anak ini menganugerahi Si Unyil sebagai film pendidikan terbaik untuk negara-negara berkembang.

Namun dibalik nama besar Si Unyil, ada seorang konseptor bernama Drs. Suyadi atau lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Blangkon, beskap, dan tongkat serta kumis hitam melintang serta suara yang keras membahana merupakan ciri khasnya. Tentunya butuh waktu tidak sebentar dan dedikasi tinggi agar karakter Pak Raden menancap di benak orang. Apalagi dalam jagat budaya pop di Indonesia tidak banyak sosok yang begitu melekat dengan sebuah karakter sepanjang hidupnya.

Pak Raden adalah orang yang sangat berjasa dalam dunia pertelevisian khususnya acara untuk anak. Bisa juga dibilang sebagai pahlawan bagi anak-anak dan budaya. Karena, selain melalui Si Unyil, Pak Raden sepanjang hidupnya konsisten menyirami jiwa anak-anak Indonesia dengan kasih sayang melalui mendongeng dan buku-buku cerita hasil karyanya. Dimana isinya sarat makna, seperti membangun karakter, cinta tanah air, hormat kepada orang tua dan rajin belajar, meskipun film kartun Jepang dan Amerika terus-menerus mendominasi.

Dan seperti para pahlawan lainnya yang telah mengharumkan nama Indonesia, Drs Suyadi tidak menikmati masa tua hingga akhir hayatnya dengan hidup layak. Pak Raden menjalani hidup sederhana dengan tetap berdongeng pada anak-anak. Tentunya itu pekerjaan yang disukainya, namun itu juga sebuah cara bagi Pak Raden untuk bertahan hidup.

Lalu apakah pak raden layak disebut pahlawan? tentu saja. Beliau adalah sosok gentleman dan negarawan yang sangat konsisten di bidang seni dan budaya. Beliau juga mengabdikan ilmu yang dia miliki untuk calon penerus bangsa. Jasa pak Raden tiada duanya, kita patut untuk berterima kasih dan meneruskan perjuangannya. Selamat jalan pak Raden, rest in peace.

-Raditya Nugroho