Nama Emmanuel Macron menjadi sorotan sejak ia menjadi kandidat pemilihan presiden Prancis tahun 2017. Bagi banyak orang, Macron tampak membawa lebih banyak harapan dibandingkan Marine Le Pen, kandidat lainnya yang menginginkan Prancis keluar dari Uni Eropa dan membatasi jumlah imigran. Ketika Macron terpilih, tak hanya warga Prancis yang bersukacita tapi juga warga dunia yang peduli dengan politik internasional, setelah sebelumnya mereka berubah pesimis saat Brexit dan Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS.

Muda, berambisi, dan progresif adalah tiga kata yang menggambarkan Macron. Dengan gelar sarjana filsafat, ia meniti karir sebagai investment banker. Jalur karir yang ia pilih berhasil membawanya ke kursi menteri keuangan dan akhirnya mengikuti pemilu presiden sebelum usianya mencapai 40 tahun. Ia pun fasih berbahasa Inggris, tak seperti kebanyakan warganya yang lebih bangga dengan bahasa sendiri.

Dua bulan setelah resmi diangkat sebagai presiden, Macron terlihat masih setia dengan jargon kampanyenya yaitu “En Marche!” (move forward). Ketika Trump menolak isu perubahan iklim dan menarik diri dari Paris Agreement, Macro memberikan respon tegas dengan membuka peluang bagi ilmuwan AS untuk datang ke Prancis mempelajari isu iklim. Dalam pidato tanggapannya, Macron bahkan trolling Presiden Trump dengan kalimat penutup speechMake our planet great again”.

Keberanian pula yang membuatnya mengundang Trump ke hari terbesar warga Prancis yaitu Bastille Day. Keputusan ini tentu mengejutkan bahkan mengecewakan penggemar Macron yang mengira ia anti-Trump. Terlepas dari ketidaksepakatan Macron dan Trump tentang pemanasan global, mereka berada di sisi yang sama soal ISIS dan terorisme. Entah apa saja yang mereka perbincangkan namun itu berhasil membuka kemungkinan bagi Trump untuk mengubah keputusannya soal Paris Agreement. Sebagai sesama pemegang kode nuklir, tentu relasi baik mereka membawa ketenangan bagi warga negara masing-masing.

Perlu diakui bahwa Macron memang memiliki nyali. Ini tak hanya terlihat di langkah politiknya tapi juga di kehidupan pribadinya. Saat berusia 17, Macron berjanji akan menikahi guru teaternya yang berusia 24 tahun lebih tua. Layaknya gentleman, Macron menepati janjinya 13 tahun kemudian.

Baru-baru ini Macron tampil dengan aksi berani meluncur turun dari helikopter ke kapal selam. Banyak yang kemudian menganggapnya menggunakan posisi pemimpin negara sebagai spotlight pribadi apalagi setelah diikuti dengan kebijakan pemotongan anggaran militer yang membuat popularitas Macron menurun. True, a gentleman never uses his power for showing off. But also true, a gentleman never fear showing his true competency in public, walaupun harus dengan langkah yang tidak populer demi tujuan yang lebih utama. Apakah public stunt Macron menambah kapasitasnya sebagai presiden? Gentlemen, we’ll let you decide.

-manuvradmin