Seorang gentleman akan menghindari membahas sebuah perkara yang hanya berujung menimbulkan ketegangan dan tidak mempunyai manfaat sama sekali. Tapi bukan berarti tidak mau berpolitik. Seorang gentleman tak akan ragu berpendapat. Salah satunya saat pilkada Jakarta kemarin. Ketegangan antar kubu saat itu hampir menyaingi pertandingan sepakbola derby antara Manchester United vs Chelsea!

Coba Anda pantau sosmed saat pilkada Jakarta kemarin, adu hujat, saling mendukung jagoannya yang belum tentu benar, sedikit-sedikit disangkutkan dengan agama, sungguh seru. Sampai-sampai kalau Anda mau posting sesuatu yang berbau politik, tokoh, dan agama Anda jadi berpikir dua kali. Nah, tapi tidak dengan Agan Harahap.

Fotografer dan seniman yang saat ini berdomisili di Yogyakarta seperti menertawakan politik lewat karya-karyanya. Mantan fotografer di majalah musik Trax ini merekayasa foto public figure dengan jenaka sebagai objeknya. Coba Anda intip akun Instagram Agan. Isinya nyeleneh semua. Bahkan rekayasa foto yang dibuat Agan pun kadang mengundang kontroversi di media massa.

Banyak media massa, online khususnya, yang terkecoh dengan hasil karya Agan. Mereka memakan mentah-mentah foto-foto rekayasa Agan, seperti foto Ahok dengan seorang aktor yang membintangi film Ip Man 2, Ahok berjabat tangan dengan Rizieq Shihab, hingga Vladimir Putin dalam satu frame bersama Kim Jong Un seperti mereka sohib satu tongkrongan. Padahal tokoh-tokoh tersebut berseberangan dan momen tersebut memang tidak pernah terjadi. Selain media massa yang terkecoh karya Agan, netizen yang saat ini mudah triggered tanpa memeriksa terlebih dahulu fakta sebenarnya juga ikut berpartisipasi lewat komen-komen “seru” di akun Agan.

Agan mendedikasikan karyanya untuk para khalayak yang “mendadak jadi ahli politik dan agama”. Tak sedikit yang termakan karyanya dan berujung perang komentar. Padahal seniman yang foto-foto hasil editannya pernah dimuat di situs wired.com ini hanya ingin iklim politik di Indonesia hingga dunia adem ayem, baik di sosmed maupun dunia nyata. Perhatikan saja public figure yang di dunia nyata bersebrangan, disulap Agan jadi bersahabat.

Momen “foto bareng” tersebut, secara langsung atau tidak, dapat mengubah cara pandang orang di media sosial. Agan pandai memperhitungkan timing, kapan waktu yang tepat untuk mem-publish karyanya. Cara itu juga sebagai salah satu bentuk protes Agan tanpa perlu berkomentar di kanal-kanal media sosial dan berhasil mewakili kejengahan sejumlah orang yang menganggap kontestasi kedua kubu politik terlalu memusingkan, termasuk saya.

Sikap yang dilakukan pria beristrikan vokalis band C.u.t.s ini adalah salah satu bukti nyata slogan “Balas Dengan Karya”. Agan Harahap adalah seorang rakyat biasa yang bisa sewaktu-waktu dengan mudah menyentil mereka dengan karya-karyanya yang jenaka dan berpolitik tanpa harus menjadi ahli politik karbitan.

-Raditya Nugroho