Presiden Soekarno yang tengah melakukan perjalanan keliling dipanggil oleh Wakil Presiden Hatta untuk membahas masalah Dwi-tunggal mereka yang seolah-olah tengah pecah karena ada kubu selain mereka yang saat itu muncul yakni kubu Sutan Sjahrir-Amir Sjarifoeddin.  Hatta konon memanggil kabinet di bawah pimpinan Sjahrir dan dirinya bersama Soekarno menyatakan bahwa kabinet Sjahrir-Amir adalah kabinet yang sah.

Sjahrir dan Hatta memiliki kesamaan latar-belakang yang sama-sama didikan dunia barat. Ketika KNIP dibentuk Sjahrir untuk ‘tandingan’ jalan Pegangsaan (tempat Soekarno-Hatta berada), ia mendapat restu dari Hatta untuk menjadikan KNIP berstatus sama dengan MPR. Soekarno tidak mengiyakan pula tak menolak hal itu saat itu. Hatta pun menandatanginya secara sepihak tanpa menunggu persetujuan Soekarno.

Sjahrir menjadi perdana menteri dan Soekarno tetap menjadi presiden. Pemerintahan ditangani perdana menteri dan negara dipimpin presiden. Karena pemerintahan telah ditangani Sjahrir maka Soekarno memfokuskan diri pada kepemimpinannya dalam revolusi.

Empat hari setelah Sjahrir menjadi perdana menteri, ia mengeluarkan tulisannya yang berdasarkan keterangannya adalah maklumat pemerintahannya. “Pada waktu negara Indonesia yang merdeka didirikan, pimpinan hampir seluruhnya dipegang oleh mantan pembantu dan pejabat zaman Jepang. Hal ini menjadi kendala untuk membersihkan masyarakat dari penyakit Jepang, yang menjadi bahaya maut bagi kaum pemuda.” Begitu salah-satu petikan tulisannya.

Maklumat itu menyakitkan perasaan. Sebab Soekarno mengusahakan kemerdekaan sebelum proklamasi, bekerjasama dengan Jepang sesuai dengan janji Jepang pada waktu itu.   Hingga pada akhirnya proklamasi pun diusahakan sendiri oleh bangsa Indonesia. Meski demikian Soekarno memiliki pendapat apa yang dilakukan Sjahrir sama halnya dengan dirinya, yakni tujuan Indonesia untuk mencapai pengakuan internasional.

Soekarno sadar Sjahrir dianggap lebih mampu menjalankan perundingan dengan pihak Belanda dan Inggris. Peristiwa Surabaya 1945 yang menurut Inggris gagal diredam oleh Soekarno, membuahkan hilangnya kepercayaan Inggris terhadapnya. Inggris mencari figur lain yang memiliki pengaruh di rakyat Indonesia. Sjahrir lah orangnya.

Namun Sjahrir membuat blunder terhadap kaum militer dengan menyudutkan peran militer Indonesia yang dianggapnya sebagai fasis dan militeris. Kerjasama perjuangan diplomasi dan militer menjadi berjarak karenanya. Dan itu faktor penentu cikal-bakal kejatuhan Sjahrir di kemudian hari dan diselamatkan ia oleh Soekarno. Sejak itu Sjahrir mengakui kewibawaan Soekarno.

Surat Wasiat

Sjahrir tidak berniat merebut jabatan presiden dari tangan Soekarno. Tetapi Tan Malaka mencobanya. Ia mengaku menyesal tidak ikut serta dalam mengurus proklamasi kemerdekaan RI. Sesudah Jepang kalah, Tan Malaka meninggalkan persembunyiannya di Banten menuju Jakarta. Tan Malaka yang waktu itu memakai nama samaran Abdulradjak bertemu dengan Soekarno atas bantuan Soebardjo dan membuka samarannya.

Soekarno terpesona dengan senioritas Tan Malaka yang telah ia kenal sejak masih duduk di bangku sekolah. Kedatangan Tan Malaka mendengungkan tentang revolusioner internasional dan membuat Soekarno terkesima dengan pemikirannya. Maka tercetus kata-kata Soekarno kepada Tan Malaka. “Andaikata saya tidak lagi bebas bertindak, maka kepemimpinan revolusi ini saya serahkan kepada Anda.”

Soebardjo, ayah angkat Tan Malaka dan calon menteri luar negeri kabinet presidensiil itu membisiki Tan Malaka untuk membuat tawaran Soekarno tersebut hitam di atas putih. Soekarno membuatkannya namun tidak disepakati Hatta. Surat wasiat politik itu sulit untuk ditarik mandatnya karena merasa berjanji dengan ‘seniornya’ itu. Hatta membuat jalan keluar untuk menulis empat orang ahli waris, termasuk di dalamnya Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Iwa Koesoemasoemantri, dan Wongsonegoro.

Surat wasiat itu menjadi perangsang Tan Malaka untuk mencari jalan sendiri. Sjahrir diajak berkonspirasi dengannya untuk mengambilalih kekuasaan Soekarno. Tan Malaka akan menjadi presiden dan Sjahrir tetap menjadi perdana menteri. Sjahrir menolak halus dengan menantang Tan Malaka mendapatkan popularitas 10% Soekarno. Jika ia mendapatkannya maka Sjahrir akan bergabung.

Tan gagal mendapatkannya karena ia begitu lama hidup dalam penyamaran. Perjalanan kelilingnya tersebut sambil membawa surat wasiat dari Soekarno. Ketiga nama yang tercantum selain dirinya, telah dihapusnya. Bahkan ia memberi kesan seolah-olah Soekarno dan Hatta telah menjadi tawanan Inggris di Jakarta dan tak bebas bertindak.

Soekarno mengetahui aksi Tan Malaka tersebut, dan membalasnya dengan melakukan perjalanan keliling meski kondisi negara tengah rawan pada akhir 1945. Soekarno membuktikan masih bebas bergerak, tak seperti yang didesas-desuskan Tan Malaka menjadi tawanan Inggris. Soekarno masih populer dan dielu-elukan keberadaannya.

-Inug Gadabima