Tanggal 10 November merupakan momentum pergolakan rakyat Indonesia terhadap penolakan terjajah kembali. Pasukan Inggris yang bertindak polisionil untuk mengamankan penyerahan Jepang berikut pampasannya di Indonesia, dituding membawa NICA Belanda yang akan masuk kembali ke Indonesia. Rakyat Indonesia rela mati daripada kembali terjajah.  

Situasi tersebut oleh penulis biografi Soekarno (1901 – 1950) Lambert Giebels disebut sebagai masa bersiap. Artinya adalah masa disaat bangsa Indonesia telah menemukan jati dirinya hendak lepas dari penjajahan. Inggris yang ditugaskan sebagai penjaga keamanan kala penyerahan Jepang di Indonesia, semula bertugas mengkapitulasi dan melucuti persenjataan tentara Jepang serta menangani tawanan Belanda dan orang asing di Indonesia.

Ada dua puluh ribuan lebih pucuk senjata dan lebih dari ribuan senapan mesin Jepang yang berhasil dirampas oleh pemuda. Bahkan dua ribu kendaraan, beratus-ratus senjata mortir, artileri, tank dan senjata anti tank Jepang berhasil direbut pula. Komandan Angkatan Laut Shibata menurut keterangannya sendiri tidak memiliki pilihan lain  menyerahkan peralatan tempurnya itu karena jika tidak menyerahkannya maka penduduk sipil Jepang dan Belanda di Surabaya akan dihabisi.

Pergolakan Surabaya tahun 1945 menjadi mencekam. Pasukan Inggris yang mendaratkan tentara Gurkha berjumlah 4000 orang bertugas mengkapitulasi dan melucuti persenjataan Jepang yang kalah perang di Indonesia. Para pemuda sangat mawas diri dengan kehadiran NICA yang sudah bersiap-siap di Australia untuk turut kembali ke Indonesia. Pasukan Inggris tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Ia harus berhadapan dengan gerombolan pemuda marah akan kedatangannya yang dikira turut di dalamnya NICA  Belanda. Gerombolan pemuda marah yang melebihi jumlah pasukan Mallaby dipimpin oleh Moestopo, seorang dokter gigi yang mengangkat dirinya sendiri sebagai komandan tentara Republik Indonesia di Surabaya.

Meski pendaratan Inggris tersebut sukses tanpa perlawanan oleh karena pihak pemerintah RI di Jakarta menginstruksikan larangan penyerangan, namun ditanggal 27 Oktober 1945 pesawat terbang Inggris di atas langit Surabaya menghujani selebaran dan pamflet berisi anjuran menyerahkan senjata. Raungan mesin pesawat Inggris di udara Surabaya tidak kalah sengit dengan ucapan Bung Tomo yang berapi-api membuka kedok Inggris sebagai kaki tangan NICA.

Bung Tomo menyerukan untuk melawan Inggris. Mallaby dalam tugasnya itu memerintahkan pasukannya bertindak polisionil bukan militer. Kesatuannya dipecah-pecah menjadi peleton. Tentara Inggris – India dibuat tunggang-langgang dengan kondisi perlawanan rakyat yang mencapai jumlah ratusan ribu orang. Sebagiannya bersenjatakan rampasan Jepang, sebagiannya bersenjatakan pisau, tombak, kapak, dan bambu runcing.

Tentara Inggris yang berhasil lolos dari serbuan massa yang mengamuk, bertahan dalam lima gedung yang tersebar di pusat kota. Di sana mereka berusaha menangkis serbuan ribuan massa Surabaya. Mallaby khawatir pasukannya akan dihabisi, maka ia menelepon Christison di Jakarta untuk membantu meredam pergolakan tersebut. Christison meminta Presiden Soekarno menenangkan rakyat Surabaya. Bersama Wakil Presiden M. Hatta dan Amir Sjarifoedin, Presiden Soekarno menyambangi rakyat Surabaya yang tengah bertempur.

Roda pesawat landing yang membawa rombongan kepresidenan RI masih menggelinding di landasan, riuh terdengar hujan peluru yang disasarkan ke pesawat. Setelah pesawat berhenti, Presiden Soekarno keluar lebih dulu sambil melambaikan bendera putih atas desakan Hatta dan Amir. Lantas disambut para penembaknya dengan teriakan-teriakan merdeka atau mati. Pertemuan ini dari pihak Inggris diwakili oleh Hawthron. Efek proklamasi kemerdekaan dan semangat merdeka terasa menderu sanubari pemuda Indonesia di Surabaya  1945 kala itu.

Kesepakatan gencatan senjata diamini oleh Gubernur Jawa Timur Soerio yang republik fanatis. Amir memanggil beberapa pemimpin pemuda untuk menghadiri perundingan keesokan harinya dengan Mallaby dan Hawthron. Moestopo yang dijuluki ‘komandan kota’ pula hadir dengan baju serba hitam hingga wajahnya pun ditutupi syal warna hitam. Hatta meminta keterangan dan pertanggungjawaban tindakan lelaki berselubung hitam tersebut tentang aksinya melawan Inggris di Surabaya. Moestopo membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan Hatta dan berbicara lantang bahwa setiap orang harus lebih suka mati berdiri daripada membiarkan diri dijajah lagi. Hatta putus asa mendengar jawabannya tersebut, khawatir perundingan gencatan senjata tak akan sukses. Secara politik, perundingan merupakan senjata perjuangan. Bagi kaum militan, mengangkat senjata dan bertempur lah merupakan perjuangan. Kemudian Hatta bertanya pada Soekarno apa yang harus dilakukan terhadap Moestopo itu. Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan dua cara: perundingan dan angkat senjata. Soekarno memutuskan mengangkat Moestopo menjadi jenderal lantas serta merta pula menyuruhnya pensiun saat itu juga.

Brigadir Jenderal Mallaby menyerukan hasil pertemuan itu sambil berkeliling kota menggunakan mobil Buick. Situasi mencekam, para pemuda menahan diri untuk menyimak. Namun ada satu orang yang tiba-tiba merunduk mendekati mobil sambil melempar granat tangan. Jenderal Mallaby tewas dalam ledakan tersebut. 

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh menggantikan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby yang tewas. Kali itu lebih keras, menyuruh rakyat Surabaya menyerahkan seluruh persenjataan Jepang dengan batas waktu jam 06.00 tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut dianggap sebagai penghinaan atas kemerdekaan Indonesia oleh rakyat Surabaya. Maka milisi-milisi rakyat yang terpecah-pecah di Surabaya dan sekitarnya kemudian bersatu menyambut ancaman tersebut.

Serangan sistematis dari pihak Inggris pun dimulai. Diawali dengan tembakan canon kapal laut militernya, disusul kemudian dengan serangan udara. Surabaya dibombardir habis-habisan oleh kekuatan darat, laut, udara Inggris. Puluhan ribu pasukan Inggris diturunkan via laut dan udara. Penyerangan yang semula berdurasi tiga hari ternyata berlangsung lama. Tokoh muda Bung Tomo dan tokoh masyarakat dari pondok pesantren seperti KH Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan kyai pesantren lainnya mendukung perjuangan para pemuda tersebut. Pertempuran berlangsung hingga tiga minggu lama, dan akhirnya jatuh ke tangan Inggris.

Perkiraan jumlah korban dari pertempuran tersebut: 6000 – 16.000 pejuang Indonesia dari berbagai lapisan, 200.000 pengungsi keluar dari Surabaya, 600 – 2000 tentara gabungan Inggris-Gurkha. Berkat perlawanan rakyat Surabaya tersebut, pergerakan perlawanan terhadap penjajah bergelora di daerah-daerah lain di Indonesia.

Maka, luangkan waktu untuk mengheningkan cipta sejenak untuk para pahlawan yang telah membela kemerdekaan bangsa kita: Bangsa Indonesia.

Sekali Merdeka, Tetap Merdeka! 

 

-Inug Gadabima