Suatu malam saya berkunjung ke apartemen seorang teman. Ada yang berbeda.

“What happened to your place?”
“Abis gue rapiin, lagi nyoba decluttering dan mulai hidup minimalis”.

Teman saya adalah satu dari beberapa teman yang mencoba KonMari Method yang dipopulerkan oleh Marie Kondo lewat bukunya “The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing”. Intinya, kita HANYA menyimpan benda-benda yang memberikan kita kebahagiaan atau sparks joy. Saya tidak setuju. Kenapa?

Kejam
Menurut Kondo, esensi decluttering adalah dengan memperlakukan setiap barang yang kita miliki seolah mereka makhluk yang punya perasaan dan punya tugas masing-masing. Misalnya: kartu pos. Sebagai suvenir, tugas kartu pos akan selesai saat dia diterima. Lalu bagaimana jika saya menyimpan suvenir sebagai cara saya berterima kasih ke si pemberi? After all, you don’t simply throw a person away just because they make you unhappy.

Lingkaran setan
Anda sudah “menyingkirkan” barang-barang yang tidak memberikan kebahagiaan. Apa yang terjadi dengan barang-barang itu? Apakah didaur ulang? Ketika saya bertanya pada teman ke mana buku-bukunya setelah decluttering, dia menjawabnya, “Gue bawa ke kantor sih, terserah siapa yang ambil”. Itu sih namanya memindahkan masalah ke orang lain.

Tidak untuk semua orang
Teman saya yang punya anak berkata, “Lo mending decluttering sekarang deh, hampir gila gue nyobain itu”. Menurutnya, susah memutuskan mana barang yang masih membuatnya bahagia dan mana barang yang dibutuhkan anak dan membuat si bocah bahagia.

Benarkah jadi happy?
Sekarang Anda hanya dikelilingi barang-barang yang membuat Anda bahagia. Apakah Anda benar-benar bahagia?

Tak ada yang simpel dari mencoba hidup minimalis. Kalau memang terasa berat, isn’t minimalism beat its own purpose? Kalau minimalisme tidak membuat kita merasa senang dan tenang, apakah hidup minimalis itu mungkin bisa dilakukan dan berkelanjutan? Dan bagaimana kita mengukur “minimalis”? Minimalisme–sebagai tujuan atau gaya hidup–menurut saya kurang masuk akal.

Mungkin minimalisme bukan untuk semua orang.

If minimalism works for you, cool. Atau mungkin juga saya mengartikan minimalisme dengan berbeda, sebagai state of mind, bukan sebagai tujuan dan bukan hanya ketiadaan barang-barang. And as a mindset, minimalism means to take things the way they are, simple, easy, effortless. And isn’t that what being a gentleman is about? Jadi meski barang-barang saya memang banyak dan cluttered, tapi saya percaya diri untuk bilang bahwa saya “minimalis”: fokus hanya pada hal-hal yang penting.

And that sparks joy within.

-manuvradmin