“They do not love that do not show their love.” – William Shakespeare

Figur pahlawan dalam kehidupan kita lekat dengan tokoh-tokoh sejarah yang kita kagumi atau kita kenal secara umum dalam pelajaran-pelajaran sejarah. Namun figur pahlawan tidak saja muncul dari tokoh pembela tanah air di masa perang pra kemerdekaan dan kemerdekaan. Di dalam lingkungan keluarga, muncul pula figur yang kita kagumi dan bahkan kita canangkan sendiri sebagai pahlawan bagi diri kita yang termotivasi oleh semangat yang mereka tularkan.

Ayah, adalah simbol dari kepala keluarga yang tindak-tanduknya kita ikuti dan amati di masa lalu. Sifat gentlemen kerap lekat dengan dirinya. Banyak hal yang sadar atau tak sadar kita terilhami oleh dirinya dan menghimpun bekal di diri kita untuk berlaku seperti mereka atau bertindak lebih baik dari yang mereka lakukan sebagai bentuk dedikasi atas perjuangannya. Bagaimana hal tersebut bisa terbentuk?

The Silent Warrior

Pada tahun 1984, pabrik tempat ayah bekerja mengalami kebakaran hebat. Pemiliknya mengalami kebangkrutan total. Ayah saya berikut karyawan lainnya di PHK karenanya. Kehidupan keluarga kami yang semula berkecukupan mengalami kegoyahan, karena nihil pendapatan. Ayah berpikir keras untuk mencukupinya meski dirinya sendiri bingung dengan keahlian sebelumnya apa yang bisa dilakukan setelahnya.

Setiap hari ayah pergi untuk mencari pekerjaan. Banyak lamaran dikirimkan namun berujung nihil. Ia masih belum pupus semangatnya. Kami sekeluarga ada sembilan orang: ayah, ibu, dan ketujuh anaknya termasuk saya.

Suatu ketika saat ayah saya berkeliling mencari pekerjaan, beliau bertemu teman karib yang lama tak bertemu. Semenjak itu dirinya menemukan titik cerah mendapatkan pekerjaan untuk menutupi kehidupan keluarga kami meski dengan hasil pas-pasan. Kami tidak diberitahu jenis pekerjaannya, namun beliau setiap hari pulang dengan membawa penghasilan ala kadarnya.

Kakak saya memergoki ayah di suatu hari tengah menjajakan es mambo di depan sekolah. Kemudian kakak saya menceritakan pada kami tentang pekerjaan ayah. Rasa malu tumbuh di diri kami kedapatan ayah yang penjual es mambo. Bahkan selama tiga tahun lamanya kami tidak terima kenyataan ayah kami bekerja sebagai penjual es mambo.

Ayah diam dengan aksi yang kami lakukan. Karena hanya itu yang bisa beliau lakukan pada saat itu. Bertahun-tahun berprofesi sebagai penjual es mambo, kehidupan pun mulai berubah. Juragan tempat ayah mengambil dagangan es mambo, menghibahkan freezer bekasnya. Mungkin melihat ketekunan ayah bekerja dari pagi hingga malam. Ayah pun membuat sendiri es mambo. Jika beliau dulu menjadi anak buah, beliau pun akhirnya punya anak buah. Bahkan penjual es keliling yang setara dengan ayah turut menjajakan es mambo, turut menjual produksi es mambo ayah.

Ayah berhasil meluluskan ketujuh anak-anaknya termasuk saya dengan pendidikan tinggi S1 hingga S2. Dari es mambo, ayah membiayai pula haji dirinya dan ibu. Saya menyesal dengan sikap kami dulu dan bangga dengan beliau. Hal ini tidak akan saya lupakan hingga saya berhenti bernafas.

(Kisah ini diceritakan oleh Ucay Bergsteiner, seorang yang bekerja sebagai Engineering pemasangan seismograf di seluruh gunung berapi di Pulau Jawa).

The Soulmate

Pada saat kecil, usus buntu yang saya derita kambuh. Sakitnya bukan main. Dan itu terjadi malam hari. Kami belum memiliki kendaraan apapun saat itu dan kendaraan umum sudah jarang lewat karena sudah larut malam. Ayah panik melihat saya demikian, tanpa berpikir panjang ia menggendong saya sejauh satu kilometeran menuju rumah sakit terdekat agar saya mendapatkan penanganan cepat.”

Setelah saya besar dan telah menikah, saya mengalami sakit yang berharap ayah tak boleh tahu. Tetapi beliau malah menelpon saya. Beliau curiga dari suara saya yang berbeda. Padahal saya sudah bilang tidak apa-apa dan berbohong saya sehat. Sejam kemudian dirinya muncul menjenguk saya dan melihat langsung diri saya terkapar tak berdaya di tempat tidur. Ia datang dengan menggunakan motor agar lebih cepat sampai. Saya disuruh berobat ke rumah sakit. Suami saya ditegur olehnya karena tak memberitahukan saya sakit.

(Kisah ini diceritakan oleh Mira Mia, ibu rumah tangga)

The Chemistry

Ayah saya punya semangat tinggi. Meski kerja jantungnya sudah berkurang kesehatannya sebanyak 30%, ia tetap rajin berolahraga. Katanya jika ia meninggal dunia nanti ia ingin tubuhnya tidak peyot dan tetap berisi. Ayah punya rambut putih panjang, dan paling senang jika saya yang mengurusnya. Semangat hidupnya tersebut memotivasi saya untuk terus mendedikasikan diri mengurusnya sebagaimana dirinya mendedikasikan dirinya hingga saya besar kini.

(Kisah ini diceritakan oleh Mira A. Winata, ibu rumah tangga)

The Mindset

Sejak kecil saya sering diajak ayah yang bekerja sebagai pengawas dan perencana pembangunan. Tiap diajak pergi, saya selalu dikenakan pakaian yang nyaman dan berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh anak-anak yang sering saya temui di lapanga

Pada saat saya masih kecil, saya bepergian dengan ayah saya yang bekerja sebagai pengawas dan perencana pembangunan di kota saya. Saya diajak untuk berjalan hampir di seluruh daerah terpencil bahkan lebih jauh kondisinya dibawah dari desa kami dan bertemu dengan penduduk lokal. Pada saat itu saya merasa biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa. Saya suka menggambar dan menulis sejak kecil, dan saya akhirnya mencintai traveling.

Seiring waktu berlalu, saya dibesarkan dan dalam pikiran saya hanya berpikir dan terindoktrinasi untuk belajar dengan baik dan bekerja di salah satu perusahaan favorit di kota besar. Saya telah menyelesaikan semua studi saya dan pernah bekerja di kota besar. Sampai suatu hari saya mulai mengubah hidup saya. Saya pergi pada perusahaan keluarga istri saya yang telah lama diabaikan. Perusahaan ini bergerak di bidang konstruksi listrik. Pengembangan dikelola oleh pemerintah dan pekerjaan dilakukan oleh perusahaan seperti perusahaan kami. Dengan menjalankan perusahaan ini mendorong saya untuk kembali ke daerah terpencil di negara saya. Pekerjaan ini mengingatkan saya untuk masa kecil saya berjalan-jalan dengan ayah saya ke daerah terpencil di kampung halaman saya. Apa yang hendak ayah tunjukan ke saya pada saat saya masih kecil akhirnya terbesit dalam pikiran saya. Ya pekerjaan ini cukup sulit untuk dijalankan tetapi hal penting lainnya adalah tentang jiwa sosial dan kemanusiaan.

Ayah saya memberi saya pesan sejak saya masih kecil bahwa pembangunan harus dilakukan untuk masa depan yang lebih baik. Dan dia berhasil mengajari saya tentang mencintai alam. Namun di balik pemandangan yang indah ini ada banyak kehidupan, banyak anak, banyak keluarga, banyak hewan dan pohon untuk dilindungi dan harus diberikan perhatian. Oleh karena itu saya mulai untuk menjalankan setiap proyek dengan bijak. Banyak korupsi yang terjadi di negara saya. Saya pikir mereka itu buta ya sangat buta.

Terima kasih Ayah … Aku sudah berguna dalam pembangunan meskipun hanya sedikit. Lukisan yang pernah saya buat terpampang di dinding rumah tua kita dan pada saat melihat pemandangan yang indah akan selalu mengingatkan saya tentang rumah.

(Diringkas dan disadur dari artikel Ketut Rudi Utama untuk ayahnya Ir. I Putu Naya)  

The Hope         

Setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan itu biasanya akan selalu berubah dan terus bertambah. Kadar kekaguman kita pun naik-turun. Pahlawan datang dan pergi, tapi ada satu yang selalu di hati, dan tetap menjadi yang terbaik. Entah terbuat dari ‘lem’ jenis apa, tapi kepahlawanannya pun nempel terus di hati saya. Dialah, ayah saya.

Ayah saya, ayah yang biasa saja sebenarnya. Satu-satunya yang jadi luar biasa adalah, kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung saya, bukan yang lain. Kita nggak pernah bisa milih, siapa dan bagaimana ayah atau ibu kita. Tuhanlah yang milih. Dan, itu pasti ada maksud yang baik.

Waktu berjalan. Kemewahan hidup dengan ayah pun hilang. Bukan hanya soal materi, tapi juga soal momen. Ini berarti saya gak akan bisa main gulat-gulat WWF lagi dengannya, saya nggak bisa curhat tentang first kiss saya nanti, tentang putus cinta, dan dia sudah pasti nggak akan ada di wisuda saya atau bahkan saat saya nanti menikah. Percayalah, momen manis itu lebih penting dari sekedar materi.

Ayah saya meninggal di umurnya yang ke-58.

Suatu ketika, saya menemukan sebuah foto di dalam koper kecil yang jeleknya minta ampun. Di gambarnya ada beberapa anak remaja dan anak kecil. Di belakang foto tua dan usang itu, ada tulisan tangan yang jelek banget tapi maknanya dalem abis, yaitu ‘Biarkan kami paling miskin di desa kami, saya bahagia bisa foto bersama adik-adik saya’. Ya, itu adalah foto ayah saya dan adiknya. Dan itu tulisan tangan dia.

Saya tahu ayah saya harus berjuang untuk sekolah, tapi saya nggak pernah nyangka dia dulu sesusah itu. Kenapa? Karena saya mengenal dia, ketika dia sudah cukup secara materi. Saya mengenal dia saat dia sudah menghasilkan banyak uang. Saya megenalnya saat dia sudah dihormati banyak orang.

Saya pun mulai mencoba mencari tahu jalan hidup ayah saya. Dia cukup beruntung bisa sekolah sampai SMA. Dia berjualan segala macam sampai petasan, yang tentunya dia akan dirazia kalau itu dilakukan saat ini. Dia juga beruntung diangkat seperti anak sendiri oleh keluarga baik yang bersedia menampungnya tinggal di kota Bandung.

Setelah sempat drop out dari Unpad jurusan Ekonomi karena nggak punya biaya, dia lanjut ke sekolah gratis yaitu APDN, kalau sekarang IPDN, sekolah untuk menghasilkan para PNS. Akhirnya dia bisa menjadi PNS dengan posisi yang sangat penting di masa hidupnya.

Ada satu cerita yang kalau saya tahu saat dia hidup, tentu saya akan ‘puk-puk’ bahu dia. Bahkan karena miskinnya dulu, dia pernah ditolak bahkan sampai diludah oleh seorang perempuan yang menolak lamarannya (Tentu bukan ibu saya!). Dan sialnya ini bukan adegan sinetron striping macam Putri Yang Ditukar atau apapun itu dengan judul dramatisnya. Ini Nyata. Ah, poor you dad, haha!

Sejak melihat foto usang itu saya seperti berani punya cita-cita. Saat itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa tanpa seorang ayah pun, saya baik-baik saja. Saya nggak mau kalah sama ‘cerita hidup’ ayah saya. Ajaibnya, setiap ingat foto tersebut semangat saya biasanya kembali muncul! Buat saya foto itu adalah jimat saya!

Waktu itu doa saya adalah lulus SPMB untuk masuk Unpad. Pertama, karena dulu ayah saya gagal lulus dari Universitas negeri ini. Kedua, biar biaya kuliah saya bisa murah. Mengapa kuliah murah menjadi penting? Kedua kakak saya kuliah di universitas swasta ternama Jakarta. Biayanya mahal! Dan saya nggak mau uang ibu saya hanya habis untuk biaya kuliah saya nanti.

Pikiran ini tentu mustahil muncul di kepala saya, jika ayah saya dengan segala materi yang dia dapatkan dari pekerjaannya, masih ada. Akhirnya, saya masuk Unpad, dengan biaya kuliah untuk angkatan saya, hanya sekitar 375 ribu/semester, sampai saya lulus! Biaya kuliah saya sampai lulus bahkan lebih murah atau sama dengan biaya kuliah kakak saya per semester. Dari situ pun langkah saya pun mulai berani lagi melangkah lagi ke tempat atau tujuan yang rasanya saat itu nggak masuk akal.

Ayah saya meninggal di China, tahun 2001. Dan ‘Titik-titik’ saling terhubung. Selama kurun waktu setelah ayah saya meninggal, hidup saya berubah. Positif tentunya. Saya melangkah ke tempat yang bahkan nggak pernah dia, ibu, atau kakak saya dapatkan.

Saya mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Unpad untuk ikut HNMUN ke Amerika Serikat. Dengan sumringah saya bisa melihat Lincoln Memorial, di Washington DC, tempat bersejarah dimana Martin Luther King berpidato menuntut persamaan haknya dengan judul ‘I Have a Dream’.

Ketika satu pintu terbuka, maka ia akan membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. Kemudian, saya bisa main angklung dan wayang di Eropa, walaupun saya bukan seniman sungguhan. Saya juga menulis buku ‘Merah Putih di Benua Biru’ yang diterima baik di masyarakat.

Ya, setiap kejadian ada alasannya. Dulu saya nggak ngerti kenapa ayah saya harus meninggal. Tapi, setelah berbagi ‘titik-titik’ kejadian terhubung, saya mulai mengerti.

Kematian ayah saya ternyata memang diharuskan untuk membuat hidup saya menjadi lebih baik. Dan dengan kematian tersebut, ayah saya justru telah menjadi pahlawan terhebat! Dia bahkan rela menerima takdir kematiannya, mati lebih dahulu tanpa melihat anaknya tumbuh dewasa, tapi demi kehidupan anaknya yang lebih baik.

Ya, ayah saya adalah pahlawan paling hebat yang saya miliki, selain tentu ibu saya yang tetap berjuang dan memilih tidak menikah lagi saat ayah saya tiada.

Kita nggak perlu mengerti alasan kejadian pahit yang kita alami saat ini. Pastikan kita tetap melangkah, dan bisa jadi kita akan menemukan alasan manis di balik rasa pahit tersebut. Dan dari situ, kita akan bersyukur.

Kelak, saya juga akan menjadi seorang ayah. Semoga, suatu saat nanti, saya juga bisa menjadi pahlawan yang hebat untuk anak saya.

(Disadur dan diringkas dari artikel Erditya Arfah untuk ayahnya. Selengkapnya dapat dilihat di erditya.com).   

 

Be a next gentlemen, guys!

 

-Inug Gadabima