Hai, penggemar metal di ujung sana. Ini gue, si introvert di pojokan. Gue pakai headset tapi masih terdengar loh, Megadeth-nya. Sebab lo ikutan nyanyi.

Suatu waktu di Hamburg tahun 1950-an, beberapa desainer berpikir bahwa open office bisa membuka komunikasi antar kolega yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Fast forward ke 2017, hampir semua kantor mengadopsi tata letak open office. Asumsinya, ide para desainer Jerman itu berhasil.

Tapi sebagai introvert, open office itu horor.

I mean, there are people! Like you.

Nah karena gue pengen gue, lo, kita semua, bisa bekerja dan memanfaatkan open office sesuai cita-cita awal desainernya, how about this? Bagaimana kalau kita membuat “peraturan” supaya kita semua nyaman dan produktif di open office, dan total jadi kelas menengah urban.

  1. Untung manajemen tahu ada orang-orang seperti gue yang selalu butuh break dan ketenangan. Makanya ada “silent room”. Kalau gue di silent room, please jangan cari-cari kalau cuma buat nunjukkin video kucing. Nanti gue keluar kok, dan video kucingnya juga masih tetap lucu.
  2. Kalau gue ngga di silent room dan lagi di kursi gue, lo jangan intipin laptop gue. Lo fokus aja sama kerjaan lo.
  3. Kalau gue udah pakai headset, artinya gue lagi ngga bisa diajak ngobrol. Atau kalaupun gue mau ngobrol, gue harap obrolannya ngga diawali dengan, “Eh tahu ngga”.
  4. Karena gue ngga pengen jadi hakim garis dan ini bukan pertandingan bola, boleh ngga, barang-barang lo ngga kemana-mana? Boneka Minion-nya taruh di rumah aja gimana?

Sementara itu dulu sih, yang terpikir. Oh iya, di sini bukan rumah jadi mungkin bisa kali yah, kalau manggil ngga usah teriak-teriak.

Terakhir, gue mau bilang kalau ini bukan cuma soal gue. Gue mau beradaptasi. Gue mau komunikasi, ngobrol, lucu-lucuan dan seru-seruan. Tapi lo harus tahu kalau gue lagi diam, itu artinya gue lagi fokus kerja atau gue memang lagi ngga pengen ngobrol. Dan itu bukan salah lo. Ngga semuanya tentang lo, sama seperti ngga semua tentang gue.

So, we’re cool?

-manuvradmin