“Women are meant to be loved, not to be understood.” – Oscar Wilde

Di balik orang besar terdapat wanita yang hebat? Pepatah ini sering terdengar sebagai bentuk pujian bagi sosok wanita di belakang keberhasilan seorang pria.

Presiden Soekarno punya ragam sejarah yang tak pernah ada habis-habisnya dikupas. Dari masa kecil hingga menjelang wafat. Kepribadian Gemini tercermin dalam dirinya. Ia mampu tegas dan ia mampu rapuh. Kepemimpinannya menuai banyak pujian dan tak sedikit yang tak menyukainya. Ia hidup dalam alam dilematis masa awal kemerdekaan. Sifat authoritarian hingga ke demokrasi terpimpin menjadi sistem yang hendak dicobanya. Asalkan bukan bentuk federasi yang ia benci.

Wanita-wanita di balik kehidupan besar Presiden Soekarno adalah orang-orang yang menghadirkan sosok Soekarno seutuhnya sebagai pria. Siapa saja kah mereka?    

Oetari Tjokroaminoto

Tinggal dan dididik oleh gurunya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Soekarno dan Oetari hubungannya sudah seperti kakak beradik ketimbang pasangan yang sedang jatuh cinta. Juga dunia Soekarno remaja dengan Oetari yang masih baru gede, sangat jauh berseberangan untuk menemukan kesamaan yang bisa disatu-padukan. Namun gurunya menganggap bahwa Soekarno pantas menjadi suami dari anaknya Oetari yang kala itu masih berusia 16 tahun. Pernikahan tersebut berlangsung paska wafatnya ibunda Oetari atau istri dari sang guru, H.O.S. Tjokropranolo. Namun pernikahan pertama ini hanya berlangsung dua tahun (1921 – 1923) karena Soekarno menceraikan Oetari setelah ia duduk di bangku kuliahnya di Bandung. Menurut penjelasan Soekarno, ia tak pernah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Oetari selama pernikahannya.

Inggit Garnasih

Inggid Grnasih

Pesona wanita parahyangan membuat Soekarno tertegun dan terpesona melihat sosok ibu kosnya. Ia melihat Inggid sebagai wanita matang dan cantik. Kala itu Soekarno berusia 20 tahun dan Inggid berusia 33 tahun. Soekarno sering mencuri-curi pandang ke Inggid. Inggid yang telah memiliki suami bersama Sanusi dalam keadaan masalah ketidakharmonisan. Kemudian Soekarno mempersunting Inggit yang akhirnya harus meninggalkan suaminya, tahun 1923. Dalam kurun 20 tahun (1923 – 1943), Inggid menjadi teman hidup Soekarno baik suka maupun duka. Namun selama pernikahan tersebut, keduanya tidak dikaruniai anak. Kehidupan harmonisnya mulai terkoyak ketika Soekarno mengalami masa pembuangan di Bengkulu. Ada seseorang wanita yang menawan hatinya lagi dan Inggid tak sudi dimadu. Akhirnya perceraian pun terjadi.

Fatmawati

Fatmawati

Seseorang yang menawan hatinya di Bengkulu tersebut bernama Fatmawati, gadis asli setempat. Ia adalah putra tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Kebalikan dengan Inggid Garnasih yang lebih tua dari Soekarno, Fatmawati jauh lebih muda, terpaut jauh usianya hingga 22 tahun. Saat itu Inggid pulang pergi dari dan ke pengasingan Soekarno. Mengetahui Soekarno main mata dengan Fatmawati, Inggid tak ingin dimadu dan menolak dipoligami. Maka, Inggid pulang ke Bandung. Pernikahan Soekarno – Fatmawati terbilang unik, karena mempelai pria saat pernikahan diwakilkan oleh orang lain. Tentu saja ini mengundang keanehan bagi pihak wanita dan tak bisa menolaknya. Usai pernikahan, Fatmawati dijemput langsung oleh Soekarno untuk diboyong turut bersamanya. Hubungan Soekarno – Fatmawati berlangsung selama 13 tahun (1943 – 1956). Dan Fatmawati adalah ibu yang menjahit bendera pusaka untuk pengibaran di Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Dengan Fatmawati, Soekarno mendapatkan lima orang anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Kartini Manoppo

Wanita asal Boolang Mongondow, Sulawesi Selatan ini, berasal dari kalangan terhormat dan berprofesi sebagai pramugari Garuda Indonesia. Pertemuannya dengan Sukarno terjadi kala menghadiri pameran lukisan Basuki Abdullah. Sejak itu pula tiap kali ada lawatan ke luar negeri, ia selalu turut. Dengan Kartini, Sukarno dianugerahi putra bernama Totok Suryawan Sukarno yang lahir tahun 1967. Pernikahan ini awalnya ditutup rapat-rapat atas permintaan keluarga Kartini. Usia pernikahannya berlangsung sembilan tahun (1959 – 1968).

Ratna Sari Dewi

Dewi Soekarno Pinterest

Nama Jepangnya adalah Naoko Nemoto. Wanita ini kelahiran 6 Februari 1940 ini bertemu dengan Presiden Soekarno via penghubung saat Soekarno menginap di Hotel Imperial, Tokyo, Jepang. Dewi adalah seorang pelajar dan entertainer sebelum berkenalan dengan Sukarno, dan menjadi istri kelima Soekarno di usia 19 tahun (kala itu Soekarno berusia 57 tahun). Usia pernikahannya berlangsung selama delapan tahun (1962 – 1970). Pernikahan mereka membuahkan satu orang putri bernama Kartika Sari Dewi Soekarno. Paska perceraian, Dewi Soekarno menceritakan kisahnya melalui buku A Life in the Day of Madame Dewi, berpindah-pindah tempat ke berbagai negara di Eropa hingga akhirnya tahun 2008 mulai menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang. Di tahun 1998, Dewi Soekarno peran membuat heboh publik dengan pose setengah bugil dengan tato tubuhnya. Pose tersebut termuat dalam buku kontroversialnya “Madame Syuga.”

Haryati

Penari istana sekaligus Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian ini memikat Soekarno yang mencintai seni. Haryati dinikahi Soekarno di 21 Mei 1963 dalam usia 23 tahun. Namun usianya tak berlangsung lama, hanya tiga tahun (1963 – 1966). Diduga ini karena Presiden Soekarno menjalin cinta pula dengan Ratna Sari Dewi atau Dewi Soekarno.

Yurike Sanger

Pelajar yang tergabung dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika ini tampil pada acara kenegaraan. Soekarno terpikat dengan kecantikan dirinya dan memberikan perhatian lebih untuk memikatnya. Melalui seuntai kalung setelah sekian lama berkenalan dan berkunjung, Soekarno bertandang menemui orangtua Yurike hendak meminangnya. Tanggal 6 Agustus 1964, keduanya menikah secara agama di kediaman Yurike. Pemakzulan Presiden Soekarno setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965 berdampak pada kekuasaannya. Dan kehidupan keluarganya pun terusik. Soekarno menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, dan bahkan menyarankan Yurike untuk bercerai dengannya. Hubungan pernikahan keduanya hanya berjalan selama empat tahun saja (1964 – 1968).

Heldy Djafar

Sewaktu dinikahkan, wanita ini masih berusia 18 tahun. Asalnya dari Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Heldy adalah istri terakhir yang dinikahi oleh Soekarno, dan dinikahi di tahun 1966, saat Soekarno pun berusia 65 tahun. Pernikahan ini hanya bertahan dua tahun (1966 – 1969) akibat komunikasi yang difiltrasi di tempat tahanan rumahnya di Wisma Yaso. Heldy sempat meminta pisah namun tidak diingini oleh Soekarno yang beralasan ingin dipisahkan oleh maut. Karena situasi tahanan rumahnya makin ketat, komunikasi akhirnya terputus. Heldy menikah lagi dan tak lama terdengar kabar Presiden Soekarno wafat.

Hartini

Soekarno bertemu Hartini di rumah dinas Walikota Salatiga saat kunjungan kerja. Setahun kemudian mereka bertemu lagi di Candi Prambanan. Soekarno kemudian meminang Hartini yang saat itu berumur 29 tahun serta berstatus janda lima anak di tahun 1953. Dari pernikahannya dengan Hartini, Soekarno mendapatkan dua anak: Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra. Hartini menemani Soekarno selama 18 tahun lamanya, hingga redupnya kekuasaannya dan meluruh jelang akhir hayatnya. Soekarno menghembuskan nafas di RS Gatot Subroto Jakarta, 21 Juni 1970 dalam pelukan Hartini yang setia menjaganya.

-Inug Gadabima